Daerah  

Toilet Kering, Bus Malah Dimandikan: Wajah Kusam Terminal Lamongan Bikin Publik Geleng Kepala

Lokasi bagian selatan Terminal Lamongan sebelah utara gudang yang digunakan untuk parkir sepeda motor, Minggu (10/5/2026), Foto : Sujono Maulana)

NOWTOOLINE, LAMONGAN – Slogan “Lamongan Megilan” kembali dipertanyakan. Bukan tanpa alasan, kondisi Terminal Lamongan justru memunculkan ironi pelayanan publik yang membuat warga mengelus dada.

Di saat penumpang kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan dasar di toilet, aliran air justru tampak lancar dipakai mencuci bus di area terminal yang berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut.

Pemandangan itu dikeluhkan salah seorang warga Lamongan saat berada di terminal beberapa waktu lalu. Ia mengaku kecewa karena fasilitas toilet umum tak bisa digunakan sebagaimana mestinya akibat air mati.

“Waktu mau kencing airnya habis. Tapi di dekat situ malah ada yang nyuci bus, airnya deras terus,” ujar warga yang meminta namanya dirahasiakan kepada wartawan, Minggu (10/5/2026).

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar soal prioritas pengelolaan fasilitas publik di Terminal Lamongan. Sebab di tengah toilet yang kering, aktivitas pencucian armada bus justru tetap berjalan normal.

Dari penelusuran di lapangan, salah satu awak bus menyebut aktivitas pencucian bus memang dikenai biaya tertentu. Bahkan, total biaya yang harus dibayar disebut mencapai Rp120 ribu.

“Kalau cuci bus biasanya Rp100 ribu, tambah Rp20 ribu untuk air,” kata awak bus yang enggan disebutkan identitasnya.

Pernyataan itu langsung memantik sorotan publik. Sebab muncul dugaan fasilitas air di terminal lebih mengalir untuk aktivitas berbayar dibanding kepentingan dasar penumpang.

Saat dikonfirmasi terkait kondisi tersebut, petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur yang berjaga di Terminal Lamongan belum memberikan penjelasan rinci. Mereka hanya menyebut persoalan itu akan diteruskan kepada pimpinan.

“Nanti akan kami sampaikan ke pejabat yang lebih tinggi terkait kendala ini,” ujar petugas singkat.

Kondisi Terminal Lamongan yang terlihat kumuh, minim perawatan, dan fasilitas toiletnya tak berfungsi pun menjadi sorotan tersendiri. Sebagai salah satu pintu masuk penumpang antar kota, terminal seharusnya menjadi wajah pelayanan publik daerah.

Publik kini mempertanyakan keseriusan pengelola terminal dalam menjaga fasilitas dasar bagi masyarakat. Apalagi toilet dan ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan vital yang semestinya tidak diabaikan.

Di sisi lain, aktivitas cuci bus yang tetap berjalan memunculkan kesan adanya pelayanan yang lebih berpihak pada kepentingan berbayar dibanding kenyamanan penumpang.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, slogan “Lamongan Megilan” dikhawatirkan hanya menjadi jargon tanpa makna di tengah wajah terminal yang kusam dan pelayanan publik yang memprihatinkan.