NOWTOOLINE, LAMONGAN – Keterbatasan lahan di era modern bukan lagi menjadi alasan untuk berhenti produktif. Filosofi inilah yang dibuktikan oleh Iskandar, seorang warga inovatif asal Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Di tengah keterbatasan area hijau, ia berhasil menyulap rooftop atau atap terbuka rumahnya menjadi ladang melon hidroponik yang subur dan bernilai ekonomi tinggi.
Berawal dari area kosong berukuran 13 x 8 meter yang belum sempat didekorasi untuk kelanjutan bangunan rumah, Iskandar melihat potensi lain yang jauh lebih hijau. Sebelumnya, ia memang sudah akrab dengan dunia pertanian melalui sistem greenhouse.
”Kami kan sebenarnya sudah menanam di greenhouse. Nah, kebetulan kami punya rooftop yang kosong dan mohon maaf, belum bisa membangun ke atas untuk kelanjutan rumahnya. Jadi saya manfaatkan ruang ini untuk menanam melon,” ujar Iskandar.
Strategi Adaptasi: Berani Evaluasi Melawan Cuaca Ekstrem
Perjalanan Iskandar dalam merintis urban farming di atas awan ini tidak serta-merta berjalan mulus. Pertanian atap terbuka (open rooftop) memiliki tantangan lingkungan yang jauh lebih dinamis dibandingkan lahan konvensional.
Pada musim tanam pertama, Iskandar sempat mencoba membudidayakan melon premium jenis Adinda produksi Tunas Agro. Namun, teriknya cuaca terbuka di atas gedung serta serangan hama membuat hasil panen pertamanya belum sepenuhnya optimal.
Tidak patah arang, mencatat langkah Iskandar sebagai bentuk adaptasi yang cerdas. Pada musim tanam kedua, ia melakukan evaluasi besar-besaran dengan beralih ke varietas melon lokal yang terbukti lebih tangguh dan adaptif dengan iklim Lamongan.
• Varietas yang Dipilih: Melon jenis Gracia, New Cheria, dan Nobel.
• Keunggulan: Lebih tahan cuaca dan memiliki masa panen relatif singkat, yaitu berkisar antara 60 hingga 65 hari saja.
”Kemarin itu kita bisa dapat 2,5 kuintal. Tapi kalau musim hujan, kondisi di rooftop ini memang kurang begitu bersahabat, terutama untuk melon-melon yang jenis premium. Tantangan utamanya ya memang cuma hujan saja,” katanya.
Namun dengan beralih ke varietas lokal, Iskandar memprediksi hasil panen pada putaran kedua ini akan jauh lebih melimpah.
Sentuhan Teknologi: Belajar Mandiri Lewat YouTube
Edukasi menarik dari kisah Iskandar adalah bagaimana ia mengombinasikan ketahanan pangan desa dengan pemanfaatan teknologi digital. Ketertarikannya pada dunia pertanian bermula saat ia mengikuti program ketahanan pangan desa yang didampingi oleh seorang mentor.
Berbekal ilmu dasar tersebut, Iskandar tidak berhenti belajar. Ia memperdalam teknik pengairan modern secara otodidak melalui platform digital. Kini, lahan atapnya telah dilengkapi dengan sistem pengairan yang efisien dan presisi.
”Sistem penyiramannya kami pakai selang drip dan fertigasi tetes. Kalau teknologi dan cara implementasinya ini, saya belajar mandiri dari YouTube,” tuturnya.
Inspirasi Urban Farming untuk Generasi Muda
Apa yang dilakukan Iskandar di Desa Deketkulon ini menjadi bukti nyata bahwa urban farming atau pertanian perkotaan bukan hal yang mustahil untuk diterapkan di Kabupaten Lamongan. Langkahnya tidak hanya membangun ketahanan pangan secara mandiri, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya membaca peluang di tengah keterbatasan.
Iskandar berharap, replika pertanian rooftop miliknya bisa menularkan energi positif dan menjadi pemantik semangat bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda yang kerap menganggap pertanian sebagai sektor yang padat lahan dan melelahkan.
”Harapannya ini bisa menginspirasi yang lain, terutama kawula muda agar tetap bersemangat dan punya inovasi baru untuk memanfaatkan lahan seadanya untuk menanam,” tutur Iskandar penuh optimisme. (*)
