Sosok  

Meneladani KH Ahmad Dahlan, Warisan Pembaruan Pendidikan dan Kepedulian Sosial bagi Generasi Muda

KH Ahmad Dahlan (Foto : Ilustrasi)
KH Ahmad Dahlan (Foto : Ilustrasi)

Di tengah derasnya arus digitalisasi, perubahan sosial, dan tantangan yang dihadapi generasi muda, nilai-nilai perjuangan Pahlawan Nasional KH Ahmad Dahlan tetap relevan sebagai sumber inspirasi. Pendiri Muhammadiyah itu tidak hanya dikenang sebagai ulama pembaru, tetapi juga pelopor pendidikan modern, penggerak kepedulian sosial, dan tokoh yang mengajarkan pentingnya keberanian berinovasi demi kemajuan bangsa.

Keteladanan KH Ahmad Dahlan kembali menjadi perhatian dalam kajian sejarah dan forum literasi kebangsaan yang digelar akademisi di Yogyakarta pada Agustus 2026. Forum tersebut menegaskan bahwa gagasan pembaruan (tajdid) yang diwariskan KH Ahmad Dahlan masih memiliki makna penting dalam menjawab berbagai persoalan bangsa, mulai dari kesenjangan pendidikan, kemiskinan, hingga tantangan membangun karakter generasi muda.

Lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 1868 dengan nama Muhammad Darwis, KH Ahmad Dahlan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius. Pengalamannya menimba ilmu di Mekkah membentuk cara pandangnya yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan zaman.

Sekembalinya ke Tanah Air, ia melihat sistem pendidikan pada masa kolonial Belanda masih memisahkan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan umum. Kondisi tersebut mendorongnya mendirikan lembaga pendidikan yang memadukan keduanya, sebuah gagasan yang terbilang progresif pada awal abad ke-20.

Model pendidikan itu kemudian menjadi fondasi lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan mampu berkontribusi bagi masyarakat. Semangat inilah yang dinilai masih relevan untuk menjawab kebutuhan Indonesia di era modern.

Selain pembaru pendidikan, KH Ahmad Dahlan juga dikenal melalui implementasi ajaran Surah Al-Ma’un. Baginya, nilai keagamaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat, terutama kelompok yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

Semangat tersebut melahirkan berbagai kegiatan sosial seperti pendirian panti asuhan, rumah yatim, serta layanan kesehatan yang terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama maupun status sosial.

Sejarawan Islam Nusantara, Dr. Farhan Mubarak, menilai pemikiran KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa keimanan tidak berhenti pada aspek ritual semata.

“KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa keimanan yang jujur harus berdampak pada perbaikan hidup orang banyak. Ini menjadi pengingat penting bagi pemuda agar tidak sekadar berteori di media sosial, tetapi terjun langsung membantu lingkungan,” ujarnya.

Keberanian melakukan pembaruan juga terlihat ketika KH Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat sejumlah masjid di Yogyakarta berdasarkan perhitungan ilmu falak dan penggunaan kompas. Meski sempat menuai penolakan dari sebagian kalangan, ia memilih menyampaikan argumentasi secara ilmiah melalui dialog yang santun dan tidak memecah belah masyarakat.

Sikap tersebut menjadi teladan bahwa perubahan dapat dilakukan melalui pendekatan yang bijaksana, berbasis ilmu pengetahuan, dan tetap menghormati perbedaan pendapat.

Di bidang ekonomi, KH Ahmad Dahlan menjalankan usaha sebagai pedagang batik. Kemandirian ekonomi itu menjadi penopang aktivitas dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang dikembangkannya tanpa bergantung kepada pemerintah kolonial.

Nilai kemandirian itu kemudian diterapkan dalam tata kelola Muhammadiyah sejak organisasi tersebut berdiri pada 18 November 1912. Ia juga membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan melalui pendirian ‘Aisyiyah pada 1917 sebagai organisasi yang mendorong pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Pengamat sosiologi pendidikan, Prof. Nurhayati Rahman, menilai KH Ahmad Dahlan merupakan sosok yang mampu memadukan nilai-nilai Islam dengan semangat kemajuan.

“Beliau adalah seorang juru damai dan pembangun peradaban. Ia membuktikan bahwa Islam dan modernitas dapat berjalan beriringan untuk memajukan bangsa,” katanya.

Menurutnya, generasi muda dapat meneladani sikap KH Ahmad Dahlan yang mengedepankan dialog, keterbukaan berpikir, serta keberanian melakukan perubahan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kepentingan masyarakat.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, kemiskinan, hingga polarisasi sosial, nilai-nilai yang diwariskan KH Ahmad Dahlan tetap menjadi pijakan penting. Pendidikan yang inklusif, kepedulian terhadap sesama, semangat berinovasi, dan kemandirian merupakan fondasi dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.

Karena itu, semangat tajdid yang diwariskan KH Ahmad Dahlan tidak cukup hanya dikenang dalam sejarah. Nilai-nilai tersebut perlu dihidupkan melalui karya nyata, kolaborasi, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Dengan demikian, keteladanan beliau akan terus menjadi cahaya yang menerangi perjalanan generasi muda dalam membangun Indonesia yang maju, berkeadilan, dan berkeadaban.

Wartawan: Mokhamad Arianda Bakhtiar, Editor: P Bayu S