NOWTOOLINE, LAMONGAN – Empat bulan bukanlah waktu yang singkat bagi warga Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Lamongan, untuk mengakrabi genangan air. Namun, di tengah kepungan banjir yang tak kunjung surut sejak awal tahun, warga memilih untuk tidak berpangku tangan. Menjelang Idul Fitri 1447 H, mereka membangun jembatan bambu darurat secara swadaya sebagai simbol perlawanan terhadap keterbatasan infrastruktur.
Akses jalan utama yang menjadi urat nadi ekonomi kini hilang ditelan banjir luapan Bengawan Jero. Menyadari bantuan pemerintah membutuhkan proses birokrasi yang panjang, warga merogoh kocek pribadi untuk memastikan silaturahmi lebaran tetap terjaga.
Langkah Cerdas dan Edukasi Mitigasi
Fenomena kemandirian warga Bojoasri ini mendapat apresiasi dari Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen, S.Ag, M.Pd. Pria yang akrab disapa Mas Husen ini menilai aksi tersebut bukan sekadar respons emosional, melainkan langkah taktis masyarakat dalam menghadapi krisis.
”Apa yang dilakukan masyarakat Desa Bojoasri merupakan langkah cerdas dalam situasi terbatas. Spirit gotong-royongnya masih sangat besar. Artinya, mereka tidak gagap menghadapi situasi dan bersama-sama mencari solusi. Ini adalah bagian dari edukasi mitigasi bencana yang rill di lapangan,” ujar Mas Husen, Jumat (20/3/2026).
Terkait kritik mengenai lambatnya pembangunan fisik oleh pemerintah, Mas Husen yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Lamongan menjelaskan adanya kendala sistemik. Menurutnya, musibah yang terjadi di masa transisi tahun anggaran seringkali membuat penanganan fisik terkendala aturan keuangan negara.

Namun, ia menekankan bahwa ke depan, orientasi anggaran harus digeser. “Pemerintah harusnya menyediakan alokasi anggaran fisik khusus penanggulangan bencana. Sejauh ini memang baru penanganan korban seperti kesehatan dan bansos. Ke depan, infrastruktur darurat harus masuk skema prioritas,” tuturnya.
Pesan Kemanusiaan di Hari Kemenangan
Menanggapi kondisi warga yang harus merayakan Idul Fitri di atas jembatan darurat, Mas Husen memberikan pesan yang menyejukkan. Ia meminta seluruh kader partai dan elemen masyarakat untuk tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.
“Tetap semangat dan berbahagia dalam merayakan lebaran. Silaturahmi antar keluarga dan tetangga harus tetap jalan sambil kita berdoa dan berupaya agar kondisi segera pulih kembali,” pungkasnya.
Jembatan Bambu: Antara Tradisi dan Perlawanan
Bagi Afifuddin, salah satu warga setempat, jembatan bambu ini adalah harga diri. Mereka jenuh menunggu pompa pemerintah yang tak mampu mengalahkan debit air selama 120 hari terakhir.
”Kami tak mau lebaran nanti tamu-tamu harus ‘nyemplung’ air. Jembatan ini kami bangun agar silaturahmi tidak putus. Kalau menunggu air kering, mungkin lebaran tahun depan baru bisa salaman,” sindir Afif sembari merakit bilah bambu.

Tanpa proposal yang berbelit, warga mengumpulkan dana komunal. Para pria bekerja di bawah terik matahari, merajut bambu di atas air yang mulai berbau, demi memastikan sanak saudara bisa berkunjung tanpa risiko gatal-gatal atau pakaian kotor.
Jembatan bambu di Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Lamongan kini hampir rampung. Berdirinya jembatan ini bukan sebagai proyek megah, melainkan sebagai bukti bahwa di tengah pengabaian sistemik dan kepungan bencana, ikatan sosial masyarakat Lamongan justru semakin solid.






