NOWTOOLINE, LAMONGAN – Solar subsidi kembali menjadi barang yang seolah mudah di atas kertas, tetapi sulit ditemukan di lapangan. Di saat pemerintah terus mengklaim distribusi berjalan sesuai mekanisme, petani, nelayan, dan sopir angkutan justru masih harus berjibaku dengan antrean panjang demi mendapatkan beberapa liter bahan bakar yang menjadi urat nadi pekerjaan mereka.
Fenomena ini bukan cerita baru. Dari tahun ke tahun, keluhan yang sama terus berulang. Di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, antrean kendaraan pengangkut barang, truk, hingga kendaraan usaha rakyat di SPBU seakan menjadi pemandangan yang dianggap normal.
Padahal, kondisi tersebut menyimpan pertanyaan besar yang belum pernah benar-benar terjawab.
Jika kuota solar subsidi terus disalurkan setiap hari, mengapa rakyat kecil tetap kesulitan mendapatkannya?
Pertanyaan itu semakin relevan ketika di tengah kelangkaan yang dirasakan masyarakat, isu dugaan permainan BBM subsidi tak pernah benar-benar hilang dari perbincangan publik. Desas-desus mengenai praktik penyelewengan, distribusi tidak tepat sasaran, hingga dugaan keterlibatan jaringan mafia solar terus bergema tanpa pernah benar-benar terungkap secara tuntas.
Publik pun mulai mempertanyakan efektivitas pengawasan yang selama ini dijalankan. Sebab, logika sederhana masyarakat sulit dibantah. Ketika stok diklaim tersedia, distribusi disebut normal, dan pengawasan dikatakan diperketat, mengapa antrean solar masih terus terjadi hampir di setiap daerah?
Kondisi ini memunculkan kecurigaan bahwa persoalan yang terjadi bukan semata-mata masalah teknis distribusi. Terlebih, kelangkaan yang terus berulang selama bertahun-tahun menunjukkan adanya persoalan struktural yang belum disentuh secara serius.
Yang paling merasakan dampaknya adalah kelompok masyarakat yang seharusnya menjadi prioritas penerima subsidi. Petani membutuhkan solar untuk mengoperasikan traktor dan pompa irigasi. Nelayan memerlukan solar untuk melaut mencari nafkah. Sopir angkutan bergantung pada solar untuk menggerakkan roda distribusi barang dan kebutuhan pokok.
Mereka bukan pelaku usaha besar. Mereka bukan penimbun. Mereka adalah kelompok yang setiap hari bekerja di sektor riil dan menjadi penyangga ekonomi daerah.
Ironisnya, saat rakyat kecil menghabiskan waktu berjam-jam mengantre di SPBU, pihak-pihak yang diduga memperoleh keuntungan dari tata kelola BBM subsidi yang bermasalah justru seolah tak tersentuh. Situasi ini memunculkan kesan bahwa yang dirugikan selalu kelompok bawah, sementara pihak yang menikmati keuntungan berada jauh dari sorotan.
Persoalan solar subsidi kini bukan lagi sekadar soal ada atau tidak adanya pasokan. Persoalan utamanya adalah transparansi dan keberpihakan negara terhadap masyarakat yang berhak menerima subsidi tersebut.
Sebab setiap liter solar subsidi yang tidak sampai kepada petani, nelayan, atau sopir angkutan pada hakikatnya adalah hak rakyat yang hilang. Dan ketika hak itu hilang secara berulang tanpa penjelasan yang memadai, publik memiliki alasan untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik rantai distribusi BBM subsidi.
Negara tidak boleh kalah oleh praktik-praktik yang merugikan masyarakat. Aparat penegak hukum dan institusi pengawas dituntut membuktikan bahwa distribusi solar subsidi benar-benar berjalan sesuai peruntukannya. Jika memang masih terdapat oknum atau jaringan yang bermain dalam tata niaga BBM subsidi, maka pengungkapan harus dilakukan secara terbuka dan menyeluruh.
Karena ketika petani gagal mengolah sawah, nelayan batal melaut, dan sopir kehilangan penghasilan akibat sulit mendapatkan solar, yang sedang terancam bukan hanya program subsidi pemerintah. Yang dipertaruhkan adalah rasa keadilan masyarakat terhadap negara.
Publik kini menunggu jawaban yang lebih substansial daripada sekadar alasan klasik soal kuota dan distribusi. Pertanyaan yang terus bergema di tengah antrean panjang SPBU masih sama:
Apakah solar subsidi benar-benar langka, atau ada pihak-pihak tertentu yang sengaja diuntungkan dari kelangkaan yang terus menjerat rakyat kecil?






