NOWTOOLINE, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump menegaskan dukungan Washington terhadap klaim kedaulatan Maroko atas Sahara Barat dan proposal otonomi yang diajukan Rabat. Penegasan itu disampaikan melalui pesan resmi kepada Raja Mohammed VI bertepatan dengan peringatan ke-27 Hari Takhta Maroko, sebagaimana diumumkan Kantor Kerajaan Maroko pada 3 Agustus 2026.
Pemerintah Amerika Serikat kembali menyatakan dukungannya terhadap posisi Maroko dalam sengketa Sahara Barat. Dalam pesan kepada Raja Mohammed VI, Presiden Donald Trump menyebut Amerika Serikat mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat dan mendukung proposal otonomi Maroko sebagai dasar penyelesaian sengketa.
Pesan tersebut diterima Raja Mohammed VI dalam rangka peringatan ke-27 Hari Takhta atau Throne Day. Kantor Kerajaan Maroko kemudian menerbitkan pernyataan resmi mengenai isi pesan tersebut pada 3 Agustus 2026, dengan materi pesan bertanggal 1 Agustus 2026.
Menurut pernyataan resmi tersebut, Trump menilai hubungan Amerika Serikat dan Maroko telah berlangsung dalam kerangka persahabatan serta saling menghormati. Tahun 2026 juga disebut sebagai momentum peringatan 250 tahun sejarah Amerika Serikat sekaligus hubungan berkelanjutan dengan Maroko.
Dukungan AS terhadap proposal otonomi Maroko
Isu Sahara Barat menjadi bagian utama dalam pesan Trump kepada Raja Mohammed VI. Presiden AS menegaskan bahwa Washington mendukung proposal otonomi Maroko yang disebutnya serius, kredibel, dan realistis sebagai dasar penyelesaian yang adil dan permanen.
Trump juga menyatakan bahwa sengketa tersebut perlu mendapatkan penyelesaian dan Amerika Serikat akan terus mendorong kemajuan menuju tujuan tersebut. Pernyataan ini merupakan penegasan terhadap kebijakan AS yang telah diumumkan sejak 2020 mengenai pengakuan terhadap kedaulatan Maroko atas Sahara Barat.
Namun, perkembangan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks proses Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dokumen PBB mengenai perkembangan Sahara Barat pada 2026 mencatat bahwa Dewan Keamanan melalui Resolusi 2797 tahun 2025 memperpanjang mandat MINURSO hingga 31 Oktober 2026 dan menekankan perlunya penyelesaian politik yang dapat diterima bersama serta menjamin penentuan nasib sendiri rakyat Sahara Barat.
Dengan demikian, dukungan bilateral Amerika Serikat terhadap proposal otonomi Maroko berjalan berdampingan dengan proses politik yang berada di bawah kerangka PBB. Perbedaan posisi mengenai masa depan Sahara Barat masih menjadi bagian penting dalam pembahasan internasional mengenai wilayah tersebut.
Kerja sama keamanan juga menjadi perhatian
Selain Sahara Barat, pesan Trump menyoroti hubungan keamanan antara Washington dan Rabat. Trump menyebut kerja sama Maroko dalam isu perdamaian, pemberantasan ekstremisme, dan keamanan sebagai bagian penting dari kemitraan kedua negara.
Presiden AS juga mengaitkan kerja sama tersebut dengan peran Maroko dalam Abraham Accords. Kedua negara, menurut pesan tersebut, juga akan bekerja sama dalam upaya menjaga keamanan kawasan Sahel.
Kerja sama di kawasan Sahel memiliki arti strategis karena wilayah tersebut menghadapi berbagai persoalan keamanan dan stabilitas. Karena itu, hubungan AS-Maroko tidak hanya berkaitan dengan hubungan bilateral, tetapi juga menyentuh kepentingan keamanan regional.
Kerja sama ekonomi diperluas
Pesan Trump juga menyoroti peluang penguatan hubungan ekonomi Amerika Serikat dan Maroko. Pemerintah AS disebut akan mendorong pengembangan ekonomi dan sosial bersama Maroko, termasuk di wilayah Sahara Barat.
Sejumlah sektor strategis disebut secara khusus, yakni energi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mineral kritis, serta pertahanan. Jika diwujudkan melalui kerja sama konkret, bidang-bidang tersebut berpotensi menjadi bagian penting dari agenda ekonomi dan teknologi kedua negara.
Dari sisi Maroko, pengembangan wilayah selatan juga selama beberapa tahun menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Pemerintah Maroko menempatkan pembangunan ekonomi dan penguatan konektivitas kawasan sebagai bagian dari pendekatan terhadap wilayah tersebut.
Tantangan tetap berada pada proses politik
Meskipun Amerika Serikat menyampaikan posisi yang tegas, penyelesaian Sahara Barat tetap menghadapi tantangan diplomatik. PBB masih menempatkan penyelesaian politik yang dapat diterima para pihak dan prinsip penentuan nasib sendiri sebagai bagian dari kerangka proses internasional.
Dalam konteks tersebut, dukungan AS terhadap proposal otonomi Maroko menjadi salah satu perkembangan diplomatik penting, tetapi belum dengan sendirinya mengakhiri keseluruhan proses penyelesaian sengketa. Implementasi dan penerimaan proposal oleh pihak-pihak terkait tetap menjadi faktor penting dalam menentukan perkembangan selanjutnya.
Perbedaan pandangan mengenai status Sahara Barat juga telah berlangsung selama beberapa dekade. Maroko mempertahankan klaim kedaulatannya, sementara Front Polisario menolak klaim tersebut dan memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat.
Karena itu, perkembangan terbaru antara Washington dan Rabat perlu dilihat dalam dua dimensi. Pertama, terdapat penguatan hubungan strategis AS-Maroko melalui isu Sahara Barat, keamanan, dan ekonomi; kedua, proses penyelesaian sengketa secara internasional masih berlangsung melalui jalur diplomatik dan kerangka PBB.
Implikasi bagi hubungan AS-Maroko
Pesan Trump menunjukkan bahwa kerja sama kedua negara diarahkan tidak hanya pada isu politik, tetapi juga pada sektor ekonomi dan teknologi. Energi, AI, mineral kritis, dan pertahanan berpotensi menjadi bidang yang semakin mendapat perhatian dalam hubungan bilateral.
Bagi Maroko, dukungan Amerika Serikat memperkuat posisi diplomatik Rabat terkait proposal otonomi Sahara Barat. Sementara bagi Amerika Serikat, hubungan dengan Maroko mencakup kepentingan keamanan Afrika Utara, kawasan Sahel, serta peluang kerja sama ekonomi dan teknologi.
Ke depan, perkembangan hubungan AS-Maroko akan bergantung pada sejauh mana pernyataan politik tersebut diterjemahkan menjadi kerja sama konkret. Pada saat yang sama, perkembangan proses PBB dan respons pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa Sahara Barat akan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah penyelesaian.
Pesan Trump kepada Raja Mohammed VI dengan demikian menandai penegasan hubungan strategis Washington-Rabat. Namun, di tengah dukungan bilateral tersebut, jalur diplomasi internasional tetap menjadi ruang penting untuk mencari penyelesaian politik yang dapat diterima dan berkelanjutan bagi para pihak.
Wartawan: P Joce H, Editor: M Ilham Firnanda






