banner 728x250

Jadi Petugas Pemulasaran Jenazah Covid-19, Banteng Lamongan : Berani Lawan Rasa Takut Terpapar

  • Bagikan
Petugas Pemulasaran Jenazah Covid-19 dari Rumah Sakit Suyudi Paciran saat menjalankan tugasnya, Jumat (13/8/2021) Foto : Awani/NOWTooline)

NOWTOOLINE, LAMONGAN – Memang tak mudah menjadi petugas pemulasaran jenazah Covid-19. Karena mereka harus berjibaku dan kontak secara langsung dengan pasien yang meninggal dunia akibat terpapar virus corona.

Bahkan selain tenaga kesehatan (nakes), sebutan pahlawan di masa pandemi juga melekat pada petugas pemulasaran jenazah dan penggali makam.

banner 468x60

Karena pahlawan pandemi ini memliki tugas mulia, mulai dari pengambilan jenazah di kamar rawat, memandikan, membungkus kain kafan, memasukkan ke peti dan mengantarkan sampai ke pemakaman untuk dikebumikan.

Kaslan Ketua PAC PDI Perjuangan Paciran Lamongan mendapatkan kesempatan menjadi tim perawatan atau pemulasaran jenazah Covid-19 di Rumah Sakit Suyudi Paciran sejak virus ini masuk ke Indonesia.

“Jika dibanding sebelum pandemi sangat beda jauh apalagi saat ini dengan adanya varian baru. Karena Tim harus berani melawan rasa takut akan tertular virus Covid-19 dari jenazah yang kita urus,” ujar Kaslan, Jumat (13/8/2021).

Sejak gelombang varian delta datang masuk ke Indonesia utamanya di Lamongan, salah satu Banteng Lamongan ini mengaku, memiliki data jenazah Covid-19 yang telah dimakamkan dari RS Suyudi Paciran.

“Sampai hari ini sudah sekitar 180 lebih jenazah yang kami tangani. Jujur saja rasa khawatir terpapar pasti ada. Apalagi saat harus pulang ke rumah. Namun rasa itu hilang jika semuanya dijalankan dengan protokol kesehatan (prokes) secara ketat,” katanya.

Menjalankan tugas dan tanggung jawab mengurus jenazah Covid-19 tersebut ke tempat peristirahatan terakhir adalah bagian dari pekerjaannya. Menurutnya, alat pelindung diri juga harus dilengkapi.

“Saat mengurus jenazah, kita selalu menyiapkan sejumlah peralatan untuk melindungi diri. Sebelum kumpul keluarga, kita harus mandi dan benar-benar steril,” tuturnya.

Meski atas nama kemanusiaan, Kaslan tak memungkiri, dirinya tetap mendapatkan insentif pemerintah melalui Rumah Sakit Suyudi Paciran.

Tak jarang, ia harus berselisih dengan pihak keluarga atau pengantar jenazah. Kaslan berharap, mereka harus mentaati prokes apalagi harus sampai marah. “Bagaimana kalau kita sampai terpapar. Lalu siapa yang akan merawat jenazah keluarga mereka”, ucapnya.

Selain dengan alat pelindung diri saat mengurus jenazah Covid-19 agar tidak mudah terpapar, salah satu Banteng Lamongan ini mengatakan, selalu berdoa untuk diberi kekuatan dan kesehatan.

“Hindarkan diri kami dari terpapar Covid-19. Semoga pandemi di Indonesia khususnya di Lamongan segera berakhir,” ucap Kaslan, salah satu petugas pemulasaran jenazah Covid-19 di Rumah Sakit Suyudi Paciran. ()

banner 468x60
  • Bagikan