NOWTOOLINE, LAMONGAN – Nasib malang menimpa Ranu, seorang Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SMP Negeri 1 Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di tengah masa pemulihan pasca-operasi besar dan duka mendalam ditinggal wafat sang istri, ia harus kehilangan saldo tabungan sebesar Rp 20 juta secara misterius.
Uang di rekening Bank Jatim Cabang Lamongan miliknya itu amblas secara bertahap. Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Ranu melakukan pemutakhiran (upgrade) aplikasi perbankan digital J-Connect Mobile di kantor cabang setempat.
Kronologi Saldo Berkurang dan Muncul Transaksi Gaib
Warga Dusun Kedangean, Desa Surabayan, Kecamatan Sukodadi ini menceritakan bahwa petaka bermula pada Rabu (3/6/2026). Saat itu, Ranu datang langsung ke Bank Jatim Cabang Lamongan untuk memperbarui aplikasi J-Connect Mobile miliknya dengan dibantu oleh petugas.

Namun, kejanggalan mulai muncul beberapa hari kemudian saat ia memeriksa saldo melalui aplikasi. ”Saya kaget pada tanggal 7 Juni 2026, nge-cek saldo kok berkurang Rp 10 juta. Padahal saya tidak melakukan transaksi pengambilan uang,” ujar Ranu saat dikonfirmasi, Kamis (1/7/2026).
Anehnya, dua hari berselang atau pada 9 Juni 2026, Ranu menerima notifikasi dana masuk dengan nominal yang sama, yaitu Rp 10 juta. Karena merasa uangnya sudah kembali dan kurang memahami sistem digital tersebut, Ranu sempat mengabaikan peristiwa itu dan bertransaksi seperti biasa.
”Kan aneh, saya tidak merasa setor tabungan. Lalu siapa yang setor uang tersebut? Apakah ini transaksi gelap atau bagaimana?” ucap Ranu bingung.
Terkuras Rp 20 Juta dalam Empat Kali Transaksi
Mimpi buruk Ranu kembali berlanjut pada Sabtu (13/6/2026). Rekeningnya mendadak terdebit dua kali berturut-turut dengan nominal masing-masing Rp 5 juta, sehingga total saldonya berkurang Rp 10 juta.
Modus serupa berulang pada Senin (15/6/2026). Rekening Ranu kembali didebit dua kali berturut-turut dengan nominal masing-masing Rp 5 juta.
Ranu mengaku sempat tidak langsung melapor karena mengira saldo akan otomatis kembali seperti kejadian sebelumnya. Namun saat memeriksa aplikasi J-Connect, ia langsung syok. ”Saya langsung syok. Uang saya sudah berkurang total Rp 20 juta,” kata Ranu.
Ia kemudian mendatangi Kantor Cabang Bank Jatim Lamongan pada 19 Juni 2026 untuk mengadu. Ranu mengaku sempat mendapat informasi dari oknum petugas frontliner bahwa kasus serupa sudah sering terjadi, bahkan ada nasabah lain yang disebut kehilangan hingga Rp 160 juta.
Pasca-pengaduan tersebut, aplikasi J-Connect di ponsel Ranu kini dibekukan (suspend) oleh pihak bank.
Penjelasan Bank Jatim: Kode 5007 Indikasi Transaksi QRIS Sah
Merespons keluhan tersebut, manajemen Bank Jatim Cabang Lamongan memberikan klarifikasi. Supervisor Service Assistant (SA) Bank Jatim Lamongan, Siti Hanifah, menegaskan tidak ada kebocoran pada sistem internal mereka.

Berdasarkan hasil cetak (print out) buku tabungan, mutasi yang terjadi pada tanggal 13 dan 15 Juni 2026 dinyatakan sah secara sistem digital dengan kode validasi ‘JTMMB’.
”Dari hasil pelacakan data, kode sandi transaksi yang tertera sangat jelas yaitu 5007. Di dalam sistem kami, kode 5007 merupakan indikasi kuat transaksi pembayaran menggunakan metode QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) melalui aplikasi J-Connect Mobile,” kata perempuan yang akrab disapa Ifa tersebut.
Ifa menambahkan, argumen teknis lain yang memperkuat adalah biaya administrasi yang dikenakan hanya Rp 500 per transaksi, yang merupakan biaya notifikasi SMS, bukan biaya transfer antarbank sebesar Rp 6.500.
”Sistem kami mencatat transaksi QRIS ini sudah sah. Akses terhadap user login, password, dan PIN J-Connect sepenuhnya merupakan hak eksklusif serta tanggung jawab mutlak nasabah. Petugas bank sama sekali tidak memiliki akses ke sana,” tutur Ifa tegas.
Lokasi Merchant Belum Diketahui, Bank Janji Evaluasi
Meski memastikan transaksi dilakukan via QRIS, pihak Bank Jatim mengaku belum melacak koordinat merchant atau toko tempat saldo Rp 20 juta tersebut dibelanjakan. Menurut Ifa, detail tersebut sebenarnya bisa dilihat pada riwayat aplikasi di ponsel nasabah.
Ifa juga membantah keras isu yang menyatakan Bank Jatim Lamongan sering kebobolan dana nasabah atau adanya laporan kehilangan dana hingga Rp 160 juta di cabang mereka.
”Kalau untuk kasus nasabah yang terkena penipuan eksternal seperti scamming atau rekayasa sosial (social engineering), kami akui memang ada beberapa laporan. Tapi untuk klaim saldo hilang mendadak Rp 160 juta, itu belum pernah ada di cabang kami,” jelasnya.
Kendati demikian, Bank Jatim Lamongan menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi serius untuk meningkatkan pelayanan konsumen secara proaktif di masa mendatang.
”Ke depan, jika ada aduan serupa, pelayanan akan kami perbaiki dan kami akan langsung berinisiatif mencetakkan rekening koran demi transparansi,” pungkas Ifa.






